Sabtu, 26 Januari 2013

AMALAN PATIGENI By wongalus Rate This



Niat ingsun patigeni
Asirep rapet maring geni lan sinar
Aku bali maring pepeteng
Kadyo purwaning dumadi mring alam luwung
Sajroning guwo garbaning sang ibu
Sedulur papat limo pancer
Tumekaning sang jabang bayine
kakang kawah adi ari-ari,
kiblat papat limo pancer
Nyawiji mring ngarsane Gusti
Niatku patigeni
Rapal di atas adalah rapal untuk memulai laku patigeni. Patigeni adalah laku untuk mendapatkan petunjuk dan hidayah dari Allah SWT sebagaimana yang dijalani oleh para leluhur di tanah Jawa, dan dijalani langsung oleh Sunan Kalijaga.
Kenapa harus patigeni? Dalam hidup kita, terkadang kita merenungkan apakah perjalanan hidup yang kita jalani ini sudah sesuai dengan karep/kehendak-Nya. Atau justeru sebaliknya, kita merasa bahwa selama ini kita menjalani hidup atas dasar kehendak kita sendiri. Kita seperti terlempar ke dunia tanpa pegangan hidup yang pasti.
Agama yang telah kita anut semenjak kecil pun terasa hampa karena hanya dipahami dari segi syariat, aturan, hukum yang terasa kehilangan “jiwa” atau “ruh” agama. Agama (dalam pemahaman kita yang sempit) kadang juga kita rasakan tidak mampu menyediakan jawaban-jawaban bagi masalah hidup sehari-hari yang semakin kompleks. Mental kita sudah tidak bersih lagi. Jalur ruhani kita sudah tidak terhubung dengan jalur ruhani alam semesta. Hidup kita terasa mengambang dan sesak oleh nafsu dan angkara murka.
Untuk mengembalikan jati diri kita sebagai makhluk yang religius, selaras dan serasi dengan dunia batin dan dunia lahir, atau alam semesta metafisik dan fisik sehingga nanti kita mendapatkan anugerah dari Tuhan berupa rasa dekat, rasa tenang, tenteram, sumeleh dan sumarah, polos, jujur, apa adanya serta bebas dari belenggu problem yang menghimpit maka para leluhur menyarankan agar kita melakoni PATIGENI. Yaitu laku/amalan tidak menggunakan “geni” atau api selama tiga hari.
Laku PATIGENI memiliki falsafah yang sangat mendalam. Yaitu mematikan unsur API di dalam tubuh metafisik/psikis/badan astral dan fisik kita. Unsur API adalah unsur Iblis yang membawa manusia pada nafsu-nafsu negatif seperti AMARAH, BENCI, IRI, DENGKI, INGIN MEMILIKI DAN MENGUASAI, MENGALAHKAN, MENAKLUKKAN, bahkan MEMBUNUH. Unsur API yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia akan mengakibatkan dia masuk ke dalam NAAR (NERAKA).
Laku patigeni lebih terasa khusyuk dan meditatif kalau kita lakukan di tempat-tempat yang sunyi dan sepi. Misalnya di dalam gua yang benar-benar gelap tidak ada cahaya yang masuk. Atau di dalam kamar yang sangat gelap hingga tidak ada cahaya yang menerobos ke dalamnya. Sebelum melakukan patigeni, kita diminta untuk mandi hingga bersih dan memakai pakaian yang bersih. Akan lebih baik bila kita mandi dengan air kembang setaman dan ditambah dengan wewangian yang semerbak. Niat juga ditata untuk melakukan pembersihan diri.
Selanjutnya, mulai untuk memasuki kamar atau gua yang telah dipilih sebelumnya. Seluruh lampu/cahaya yang masih ada dimatikan. Kita berada di dalam gelap seperti di alam suwung dan tidak melakukan aktivitas apapun selama tiga hari tiga malam. Tidak makan dan tidak minum. Posisi badan duduk semedi, kalau capek bisa bersandar atau dalam posisi berbaring.
Selanjutnya bacalah rapal yang ada di awal kalimat tadi…..
Fokus pikiran hanya tertuju pada Tuhan Yang Maha Esa. Mengamati jalan masuk dan keluarnya nafas. Saat menarik nafas katakan Hu dalam hati.. saat mengeluarkan nafas mengatakan Allah.
Tiga hari tiga malam, misalnya dimulai pada jam 00.00 WIB dan tiga hari kemudian tepat pukul 00.00 WIB laku itu dihentikan. Selama itu, kita hanya manembah kepada Gusti Allah. Tidak berkomunikasi dengan siapapun kecuali dengan DIRI SEJATI yang terletak di dalam lapisan diri yang paling dalam. Di sanalah nanti kita nanti akan merasakan PANCARAN DIRI TUHAN KE DALAM DIRI MANUSIA.
Apabila dilakukan dengan ikhlas, pasrah dan sumeleh tidak mengharapkan atau mentargetkan apa-apa, maka kita akan benar-benar merasakan seluruh diri kita adalah bagian dari eksistensi Gusti Allah. Petunjuk-Nya yang jelas akan kita dapatkan sehingga kita mampu selalu BERKOMUNIKASI dengan-Nya dimanapun kita berada.
Inilah MODAL TERBESAR hidup manusia, yaitu YAKIN YANG SEYAKIN YAKINNYA BAHWA DIRI KITA SELALU MENDAPATKAN PEMBELAJARAN DARI GURU SEJATI (TUHAN) SECARA LANGSUNG. Dan setelah laku patigeni selesai, kita akan merasakan momentum saat kita terlahir kembali ke dunia ini. Suci seperti bayi yang baru saja dilahirkan dari rahim ibu ke rahim alam semesta.

Matra untuk matek ajian Bayu Bajra diingatnya di luar kepala. Itu mencerminkan jiwanya yang bebas seperti burung….

“Putune Bayu Bajra yo aku
Sing nduwe angkoso, Nduwe langit
Nduwe awang-awang
Aku mabur koyo manuk
Kemlebat koyo alap-alap
Mabur koyo bidho kang ora nate kesel
Mabur……burrr!!!!!!!!!!!
Maburku luwih banter tinimbang angen-angen..”

Gaya Berpakaian Islami VS Barat Oleh Lutfiana


Pakaian merupakan salah satu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam hidup manusia. Secara umum pakaian dapat dipahami sebagai “alat” untuk melindungi tubuh atau “fasilitas“ untuk memperinda penampilan. Tetapi selalin untuk memenuhi dua fungsi tersebut, pakaian pun dapat berfungsi sebagai “alat” komunikasi yang non-verbal, karena pakaian mengandug simbol-simbol yang memiliki beragam makna.
Islam menganggap pakaian yang dikenakan adalaha simbol identitas, jati diri, kehormatan dan kesederhanaan bagi seseorang, yang dapat melindungi dari berbagai bahaya yang mungkin mengancam dirinya. Karena itu dalam islam pakaian memiliki karakteristik yang sangat jauh dari tujuan ekonmi apalagi tujuan yang mengarah pada pelecehan pencibtaan makhluk Allah.
Prinsip berpakaian dalam islam dikenakan oleh seseorang sebagai ungkapan ketaantan dan ketundukan kepada Allah, kerena itu berpakaian bagi orang muslim maupun muslimah memiliki nilai ibadah. Oleh karena demi kian dalam berpakaian seseorang harus mengikuti aturan yang ditetapkan Allah dalam Al Qur’an dan As-Sunnah. Dalam berpakaian seseorang pun tidak dapat menentukan kepribadiannya secara mutlak, akan tetapi sedikit dari pakaian yang digunakannya akan tercermin kepribadiannya dari sorotan lewat pakaiannya.
Di dalam al-Qur’an terdapat Ayat-ayat tentang berpakaian dengan jilbab atau hijab, yakni surah al-Ahzab ayat 59 dan An-Nur Ayat 31. Isinya :
“Katakanlah pada wanita-wanita yang beriman; Hendak lahmereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah nampakkan perhiasanya kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupi kain kurudung ke pada dadanya, dan janganlah nampakkan perhiasa kecuali kepada suami mereka, atau kepada putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau sauara putra-putra saudara wanita mereka, atau saudara wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan lelaki yang tidak memiliki keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat-aurat wanita. Dan janganlah mereka menghetakkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan taubatlah kamu kepada Allah, hai orang-orang yang beriman, supaya kamu beruntung.” (Qs.An-nuur:31)
Pengertian busana islam adalah suatu ungkapan terhadap pakaian yang berfungsi menutupi tubuh manusia yang dapat terlindung dari hawa panas dan dingin. Sementara dari pakaian islami adalah ungkapan dari pakaian islami yang berfunsi menutupi seluruh aurat baik perempuan maupun laki-laki yang tidak transeparan tidak ketat dan tidak menyerupai lawan jenis.
Dalam syari’at hukum islam antara aurat laki-laki dan perempuan pastilah berbeda. Aurat laki-laki adalah antara pusar dan lutut. Sesuai dengan sabda Rasulullah :
Aurat laki-laki ialah antara pusar sampai dua lutut. [HR. ad-Daruquthni dan al-Baihaqi, lihat Fiqh Islam, Sulaiman Rasyid].
Sedangkan mengenai aurat perempuan akan dibagi menjadi tiga keadaan, yaitu:
1. Di hadapan suami mereka maka wanita boleh menampakkan seluruh bagian tubuhnya (berdasarkan hadits riwayat Bahz bin Hakim).
2. Di hadapan muhrimnya dan orang-orang yang disebut dalam Qs. an-Nûr [24]: 31 dan Qs. an-Nisâ’ [4]: 23 maka baginya boleh menampilkan bagian tertentu dari anggota tubuhnya yang biasa disebut mahaluzzinah yaitu anggota badan yang biasanya dijadikan tempat perhiasan, seperti: kepala seluruhnya, tempat kalung (leher), tempat gelang tangan (pergelangan tangan) sampai pangkal lengan dan tempat gelang kaki (pergelangan kaki) sampai lutut. Mahaluzzinah ini biasa tampak ketika wanita memakai baju dalam rumah (mihnah). Selain itu anggota tubuh lain boleh tampak termasuk apabila ada hajat seperti perut, payudara, kecuali aurat yang ada di antara pusar dan lutut.
Pemahaman mahaluzzinah ini diambil dari firman Allah SWT:
“….dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali…” (Qs. an-Nûr [24]: 31).
Kata zinah yang secara bahasa berarti perhiasan, tetapi bukanlah perhiasan yang biasa dipakai orang tetapi makna zinah di sini adalah anggota badan yang merupakan tempat perhiasan (mahaluzzinah), karena illa mâ zhahara minha yang dimaksud adalah yang biasa nampak pada saat itu (saat ayat ini turun) yaitu muka dan telapak tangan, jadi menyangkut anggota badan.
3. Adapun di hadapan laki-laki selain suami dan muhrimnya maka aurat wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Sesuai dengan firman Allah SWT :
“….dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Qs. an-Nûr [24]: 31).

Dalam kehidupan umum, yaitu pada saat wanita berada di luar rumahnya/di hadapan laki-laki non mahrom, maka seorang wanita harus menggunakan pakaian secara sempurna, yakni dengan menutup aurat, menetapi jenis dan model yang ditetapkan syara’ (memakai jilbab, khumur, mihnah dan memenuhi kriteria irkha’), tidak tembus pandang, tidak menunjukkan bentuk dan lekuk tubuhnya, tidak tabarruj, tidak menyerupai pakaian laki-laki,dan tidak tasyabbuh terhadap orang kafir.
Namun sesuai dengan perkembangan era globalisasi sekarang ini sering membuat kita takjub akan inovasi-inovasi diberbagai bidang yang mana inovasi-inovasi justru lebih didominasi oleh negara-negara barat. Inovasi tesebut dapat kita saksikan melalui layar Televisi, koran, Internet dan sebagainya yang sering membuat kita geleng-geleng kepala sebagai orang Indonesia yang hanya bisa menikmati dan memakai penemuan orang-orang barat tersebut. selain itu juga dapat kita lihat dari semakin banyaknya rakyat Indonesia yang bergaya hidup kebarat-baratan seperti mabuk-mabukan, clubbing, memakai pakaian ketat, bahkan berciuman di tempat umum seperti sudah lumrah di Indonesia.
Salah satu hal negatif yang ditiru oleh orang-orang lokal terutama para remaja ialah dalam hal berpakaian. Pakaian dan mode seperti model pakaian ‘U can See’ yang diterapkan oleh orang Barat ditiru oleh kaum-kaum remaja kita terutama oleh kaum perempuan yang merasa bangga dengan pakaiannya sehingga lupa akan batas-batas auratnya.
Remaja memang mempunyai banyak cara untuk mencari perhatian. Beberapa di antaranya adalah tampil dengan nyeleneh, tampil beda dari yang lain. Mulailah mereka terlihat aneh dengan penampilan yang kadang mengundang kontroversi. Orangtua dan gurupun jadi cemas karena apa yang ditampilkan itu dinilai melenceng dari adat ketimuran. Busana serba minim bagi remaja wanita sangat disukai. Sedangkan yang pria tampil lebih percaya diri dengan acesories di tubuhnya.
Remaja memang suka tampil aneh-aneh, hal ini sering dilontarkan ketika mengamati penampilan mereka di beberapa tempat umum. yang tak lazim dapat dicermati dari cara busana dan performance fisik mereka. yang berkomentar ini adalah cara remaja mencari perhatian untuk menunjukkan siapa dirinya. Namun tak jarang juga yang cukup maklum dengan keadaan ini.
Tampilan busana remaja sangat bergantung dari model baju terbaru yang sedang trend. Trend ini tentu saja dibawa oleh para idola remaja yang bisa saja memberi inspirasi mereka dari segi penampilan. Misalnya sekarang lagi trend baju korea. Termasuk ketika beberapa dari remaja tampil dengan busana yang minim, tatto permanen di tubuhnya atau tindik yang tak hanya ada di telinga sebagaimana wajarnya. Berpakaian modis boleh-boleh saja. Apalagi buat mahluk berseragam biru putih yang masih remaja.
Mode busana memang terus berganti dari waktu ke waktu. Misalnya dulu model gombrong, sekarang seperti baju korea, dan lainnya. Dan rasanya, banyak remaja yang merasa kurang gaul kalau tidak mengikuti tren busana itu. Sesungguhnya boleh-boleh saja berbusana modis mengikuti tren mutakhir. Tapi, remaja harus mempertimbangkan juga norma-norma yang berlaku di sekitarnya.
Selain cara mengenakan kerudung, ada hal-hal lain yang membuat remaja berkerudung tetap tampil modis. Warna misalnya, kalau kita bisa memilih warna yang serasi, maka dapat dipastikan akan terlihat menarik. Begitu pula model, motif, dan bahan kain bisa membuat pemakainya terlihat modis.
Dengan kata lain, meskipun seseorang itu berbusana muslim/muslimah namun jika tujuannya adalah untuk mempertontonkan tubuh dan membangkitkan hasrat seksual orang lain, untuk menjadikan diri pusat perhatian dan mengundang rasa ingin tahu orang, maka ia telah melanggar kesopanan, sekaligus keutamaan-keutamaan kerendahan hati, pengenalan dan kesopanan dalam berbusana dan bertingkah laku.
Supaya cara berpakaian remaja tidak ‘kebablasan’ ada hal yang perlu diperhatikan untuk bisa dijadikan acuan dalam berbusana yakni dapat memilih busana yang sopan, serta sesuai dengan adat dan agama karena masih banyak busana yang modis dan ngetrend sekaligus sopan.
Remaja kususnya anak-anak SMP tidak perlu takut, merasa mengenakan busana muslim akan membuat kalian terlihat kuno. Untuk perlu diketahui, busana muslim memiliki tiga model dasar yaitu gamis, abaya, dan tunik.
Gamis adalah baju muslim panjang (long dress) yang bisa dipadukan dengan celana. Selain untuk perempuan, dapat pula dipakai oleh kaum pria. Sedang abaya adalah model baju muslim terbaru dari Arab (Timur Tengah) yang bentuknya terusan, blong sampai ke kaki. Busana ini bisa dimodifikasi dan hanya dipakai oleh perempuan. Terakhir adalah tunik yaitu blus panjang, tidak ketat, dan berlengan panjang. Panjang tunik harus menutupi pantat. Dalam pemakaiannya, tunik bisa dipadukan dengan celana atau rok panjang. Nah, tiga model dasar ini, bisa dimodifikasi sedemikian rupa sehingga cocok digunakan dalam berbagai kesempatan.
Salah satu krisis moral yang melanda anak bangsa ialah terpengaruh terhadap masuknya budaya barat yang menggerogoti nilai-nilai islami utamanya dalam hal berpakaian ini. Oleh karena itu, sebagai muslim/muslimah hendaknya kita senantiasa menjunjung tinggi adab berpakaian dalam islam yakni mengenakan pakaian untuk tujuan menutup aurat dan sebagai perhiasan untuk memperindah jasmanai.(Qs Al a’raf: 26).
Misalkan dengan memakai pakaian yang islami, berpakaian yang bersih dan rapi, mendahulukan anggota badan yang kanan, tidak menyerupai pakaian wanita/laki-laki, tidak melambangkan pakaian yahudi dan nasrani, tidak ketat dan transparan, tidak berlebihan serta selalu berdo’a sebelum berpakaian.
Setelah kita mengetahui bagaimana adab berpakaian menurut islam, maka sebagai muslim/musliamah sebaiknya kita senantiasa mengaplikasikan adab berpakaian dalam kehidupan sehari-hari. Atas dasar keimanan yang kuat serta meyakini bahwa menutup aurat itu wajib, maka dalam mengaplikasikannya kita tidak akan merasa terbebani ataupun memberatkan mengenakan busana islami, akan tetapi kita harus senantiasa bangga berpakaian sesuai ajaran islam.

Kerangaka :
A. Berpakaian menurut Islam
B. Antara aurat laki-laki dan perempuan
C. Gaya Berpakaian islam VS Barat
D. Acuan dalam Berbusana untuk Remaja Muslim/Muslimah
E. Mempraktekkan Adab Berpakaian Islami dalam Kehidupan Sehari-hari

Pengembangan Kualitas Madrasah Masa Kini

Kata “madrasah” dalam bahasa Arab adalah bentuk kata “keterangan tempat” dari akar kata “darasa”. Secara harfiah “madrasah” diartikan sebagai “tempat belajar para pelajar” atau “tempat untuk memberikan pelajaran”. Apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti kata “madrasah” adalah “sekolah”.
Secara teknis, dalam proses belajar mengajar secara formal, madrasah tidak berbeda dengan sekolah, namun di Indonesia, madrasah tidak lantas dipahami sebagai sekolah, melainkan diberi konotasi yang lebih spesifik lagi, yaitu “sekolah agama”, tempat dimana anak-anak didik memperoleh pembelajaran hal ihwal atau seluk beluk agama dan keagamaan (dalam hal ini agama Islam).
Dalam prakteknya memang ada madrasah yang di samping mengajarkan ilmu-ilmu keagamaan (al-‘ulum al-diniyyah), juga mengajarkan ilmu-ilmu yang diajarkan di sekolah-sekolah umum. Selain itu ada madrasah yang mengkhususkan diri pada pelajaran ilmu-ilmu agama, yang biasa disebut madrasah diniyyah. Dalam kenyataannya, kata “madrasah” berasal dari bahasa Arab, dan tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, menyebabkan masyarakat lebih memahami “madrasah” sebagai lembaga pendidikan Islam, yaitu tempat untuk memberikan pelajaran agama dan keagamaan.
Karel Steenbrink membedakan madrasah dan sekolah karena keduanya mempunyai karakteristik atau cirri khas yang berbeda. Madrasah memiliki kurikulum, metode dan cara mengajar sendiri yang berbeda dengan sekolah. Meskipun mengajarkan ilmu pengetahuan umum sebagaimana yang diajarkan di sekolah, madrasah memiliki karakter tersendiri, yaitu sangat menonjolkan nilai religiusitas masyarakatnya. Sementara itu sekolah merupakan lembaga pendidikan umum dengan pelajaran universal dan terpengaruh iklim pencerahan barat.
Lembaga pendidikan madrasah ini secara berangsur-angsur diterima sebagai salah satu institusi pendidikan Islam yang juga berperan dalam perkembangan peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Salah satu karakteristik madrasah yang cukup penting di Indonesia pada awal pertumbuhannya adalah bahwa di dalamnya tidak ada konflik atau upaya mempertentangkan ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum.
Kini madrasah dipahami sebagai lembaga pendidikan Islam yang berada di bawah Sistem Pendidikan Nasional dan berada di bawah pembinaan Kementrian Agama. Lembaga pendidikan madrasah ini telah tumbuh dan berkembang sehingga merupakan bagian dari budaya Indonesia, karena ia tumbuh dan berproses bersama dengan seluruh proses perubahan dan perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. Kurang lebih satu abad, lembaga pendidikan madrasah mampu membuktikan, telah mampu bertahan dengan karakternya sendiri, yaitu sebagai lembaga pendidikan untuk membina jiwa agama dan akhlak anak didik. Karakter itulah yang membedakan madrasah dengan sekolah umum.
Selain telah berhasil membina dan mengembangkan kehidupan beragama di Indonesia, madrasah juga ikut berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa serta mewujudkan tercapainya tujuan pendidikan nasional.
Sejumlah permasalahan di dalam suatu lembaga madrasah, secara fakta sejarah dan pengalaman yang sangat panjang dalam menyelesaikan masalah-masalah aktual di lingkungan madrasah sampai dengan saat ini, merupakan modal dasar untuk merumuskan desain kebijakan pengembangan madrasah baik dalam jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.
Tuntutan terhadap desain madrasah dalam konteks pengembangan madrasah, dengan segenap potensi yang dimiliki dan tantangan yang dihadapinya, dewasa ini dirasakan amat mendesak. Desain yang dimaksud merupakan garis-garis besar prinsip dan kebijakan pengembangan madrasah, sehingga disebut dengan desain pengembangan madrasah yang selanjutnya dijabarkan dalam berbagai program dan pengaturannya untuk dijadikan landasan dalam berfikir dan bertindak.
Desain pengembangan madrasah adalah merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan mutu madrasah agar kualitas madrasah semakin meningkat sehingga madrasah dapat diterima oleh segala lapisan masyarakat dan lulusan dari madrasah mampu beradaptasi dan bersosialisasi dalam hidup bermasyarakat dan berbangsa di Negara kita.
Perkembangan ilmu dan teknologi dapat membawa dampak positif dan negatif. Hal itu merupakan tantangan bagi dunia pendidikan termasuk madrasah, untuk itu perlu suatu inovasi untuk memecahkan permasalahan pendidikan di madrasah agar pendidikan di madrasah selaras dengan tantangan kehidupan yang selalu berubah dan berkembang.
Inovasi pendidikan disesuaikan dengan perkembangan pendidikan dewasa ini, seperti pembinaan personalia misalnya peningkatan mutu guru, sistem kenaikan pangkat, peraturan tata tertib siswa dan sebagainya.; fasilitas fisik; penggunaan waktu; perumusan tujuan dan lain-lain.
Prinsip-prinsip pengembangan madrasah dapat diaktualisasikan dengan menghadirkan tiga desain besar pendidikan madrasah (Departemen Agama RI.2004: 53). Yang pertama, madrasah unggulan, dimaksudkan sebagai center for excellence dan akan dikembangkan satu buah untuk tiap provinsi. Madrasah unggulan diproyeksikan sebagai wadah penampungan putra-putra terbaik masing-masing daerah untuk dididik secara maksimal tanpa harus pergi ke daerah lain.
Yang kedua, madrasah model, memberlakukan proses seleksi yang ketat dan dengan berbagai ketentuan lainnya untuk menemukan anak-anak didik terbaik. Madrasah model juga diperkuat oleh Majelis Madrasah yang memiliki peran penting dalam membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di madrasah model.
Yang ketiga, madrasah regular atau kejuruan, yaitu madrasah yang fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan pendidikan kepada setiap masyarakat tanpa terkecuali. Madrasah ini dibangun beberapa buah untuk tiap kabupaten sesuai kebutuhan dengan dana dari pemerintah daerah sehingga setiap kecamatan terdapat minimal satu madrasah regular atau kejuruan.
Madrasah diharapkan dapat memainkan peranan penting dalam pembentukan intelektual, emosional dan spiritual anak. Madrasah seharusnya menjadi wadah pemupukan kecerdasan setiap siswa, dan menjamin agar setiap siswa mendapatkan kesempatan belajar yang sama dan layak. Berkenaan dengan hal tersebut maka tiga karakter dasar madrasah yang perlu dikembangkan secara holistic agar dapat menciptakan performa madrasah yang mendekati kriteria-kriteria idealisme pendidikan modern yaitu memiliki kultur yang kuat, kepemimpinan kolaboratif dan belajar kolektif dan membiasakan siswa menghadapi perubahan atau ketidak pastian.
Keberhasilan dalam penerapan inovasi harus melalui tahapan-tahapan dan strategi-strategi yang baik dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan sosial masyarakat setempat. Demikian juga dengan perubahan sekolah, kepala sekolah, guru, staf, siswa dan masyarakat adalah merupakan faktor dominan yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan inovasi yang dapat membawa perubahan sekolah kearah perkembangan dan peningkatan kualitas, seperti fasilitas, proses belajar mengajar maupun dalam proses penciptaan suasana lingkungan yang kondusif, damai, harmonis dan menyenangkan, penuh rasa kekeluargaan.

Selasa, 08 Januari 2013

HIDUP SUKSES DENGAN ASMAUL HUSNA









HIDUP SUKSES DENGAN ASMAUL HUSNA
Di Ajukan Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Karya Tulis Ilmiyah Populer Fakultas Tarbiyah Semester VII B
Dosen Pengampu :
Drs. Maswan, MM



 

Description: Description: Description: INISNU.jpg




Disusun Oleh :
Mahasiswa Tarbiyah Semester VII B Tp. 2012 / 2013
Desain Cover : Muadlim
Tata Letak/ Lay Out : Imam Tantowi

Dilarang mengutip, memperbanyak, menyiarkan atau mengedarkan  sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin dari komting
Heheheheh……


KATA PENGANTAR
بـِسْـمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيـْمِ
الْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَة ِوَالسَّلاَمِ عَلَى اَشْرَفِ اْلأَ نْبِيَاءِ وَاْلمُرْسَلِـيْنَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَاَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ    (أمّا بعد)
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang senantiasa memberikan rahmat dan bimbingan kepada hambaNya, dan tidak lupa sholawat serta salam semoga terlimpahkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw. beserta keluarga, sahabat-sahabat serta pengikutnya.
Atas berkat rahmatNya sehingga pembuatan buku karya tulis ilmiyah yang berjudul: HIDUP SUKSES DENGAN ASMAUL HUSNA.” dapat terselesaikan, pada hari Rabu tanggal 12 Desember 2012.
Kami yakin bahwa dalam penulisan buku ini masih banyak kekurangan. Maka, kritik dan saran yang membangun tidak lupa kami harapkan.
Akhirnya, kami berharap semoga buku ini membawa manfaat bagi semua pembaca, khususnya Mahasiswa Tarbiyah VII B. Amin

Jepara,12 Desember 2012
Komting FT VII B

Imam Tantowi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
………………………
i
KATA PENGANTAR
....................................
ii
DAFTAR ISI
………………………
iii



A.    PENJABARAN TENTANG ASMAA’UL HUSNA
………………………
1
Allah, Ar Rahman dan Ar Rahim
....................................
1
Al-Maliku, Al-Quddusu dan As-Salamu
…………………........
15
Al- Mukmin, Al Muhaimin dan Al-Aziz
……………………....
27
Al-Jabbar, Al- Mutakabbir dan Al-Khaliq
....................................
38
Al Bari’, Al Mushawwir dan Al Ghaffar
....................................
43
Al Qohhaaru, Al Wahhaab dan Ar Rozzaq
………………………
50
Al Fattah dan Al Alim
………………………
59
Al Qaabidh, Al Baasith dan Al Khaafidh
………………………
63
Ar Rafi’, Al Mu’izzu dan Al Mudzillu
………………………
69
As Sami’, Al-Bashir dan Al Hakam
………………………
75
Al ‘Adl dan Al Lathiif
…………...…………
83
Al Khabiir, Al Haliim dan  Al Adziim
………...….…………
91
Al Ghofur, As Syakur dan Al ‘Aliyyu
….……...……………
98
Al Kabir, Al Hafizh dan Al Muqiit
………………………
105
Al Hasib dan Al Jalilu
………………………
110
Al Karim, Ar Roqib dan  Al Mujib
………………………
116
Al Hakim, Al Wadud dan Al Wasi
………………………
122
Al Majiid, Al Baaist dan As Syahiid
………………………
133
Al Haqq dan Al Wakill
………………………
138
Al Qowiyyu, Al Matin dan Al Waliyy
………………………
142
Al Hamid, Al Muhsii, dan Al Mubdi’
………………………
148
Al-Mu’id, Al Muhyii dan Al Mumiitu
………………………
163
Al Hayyu dan Al Qayyum
………………………
171
Al Wajid, Al Majd dan Al Wahiid
………………………
176
Al Ahad,  Ash Shamad, dan  Al Qadir
………………………
184
Al Muqtadir, Al Muqoddim dan Al Muakhir
………………………
192
Al Awal dan Al Akhir
………………………
196
Az- Zhaahir, Al- Baathin dan  Al- Waali
………………………
205
Al Muta’aliy, Al Barr dan At Tawwab
………………………
217
Al Muntaqimu, Al ‘Afuww dan Ar Ra’uf
………………………
226
Al Malikul Mulki dan Dzul Jalaali Wal Ikraam
………………………
230
Al Muqsith, Al Jamii’ dan Al Ghaniy
………………………
234
Al Ghaniyy, Al Mughnii dan Al Maani
………………………
245
Al Dhaar, An Nafafi’ dan An Nuur
………………………
251
Al Hadi dan Al Badi’
………………………
257
Al Baqqi dan Al Waarits
………………………
262
Ar Rasyid dan As Ahabuur
………………………
269



B.     NADHOM ASMAA’UL HUSNA
....................................
274